Dari Epistemologi Historis, Kembali Ke Makam Keluarga Yesus

Dari Epistemologi Historis, Kembali Ke Makam Keluarga Yesus

Catatan pengantar

Tulisan di bawah ini adalah sebuah tanggapan Ioanes Rakhmat terhadap tulisan Yonky Karman (YK), Menimbang Historiografi Keagamaan, dan tulisan Deshi Ramadhani (DR), Mendisiplinkan Faktualitas Makam Yesus. Tulisan-tulisan YK dan DR ini (yang dapat diminta langsung pada penulis masing-masing) merupakan tanggapan-tanggapan terhadap tulisan Ioanes Rakhmat sebelumnya, Penulisan Sejarah dan Penelitian Makam Keluarga Yesus, yang telah terbit dalam lembaran Bentara Kompas 31 Mei 2007. Karena pertimbangan-pertimbangan tertentu, pihak Kompas sampai kini (22 Januari 2008) belum bisa menerbitkan ketiga tulisan ini.

Tanggapan terhadap Yonky Karman (YK)

Dalam tulisan tanggapannya, YK tampak jelas menyatakan bahwa saya memandang sejarah bisa ditulis obyektif seratus persen, yang menurutnya tidak mungkin bisa dilakukan karena dalam penulisan sejarah prasuposisi si sejarawan selalu berperan. Hemat saya, dalam hal ini YK telah tidak cermat membaca tulisan saya yang lalu (Kompas, 31 Mei 2007), yang di dalamnya dengan terang saya menyatakan, “[J]elas tidak ada uraian sejarah yang obyektif sepenuhnya, dan selalu akan ada faktor subyektif dari si sejarawan yang ikut berperan.” YK dengan tajam juga menyatakan, “Penganjur Yesus sejarah mengklaim berhasil merekonstruksi Yesus yang historis dan obyektif. Padahal, rekonstruksi itu didorong isu-isu kontroversial di masa modern, bukan kontroversi religius dan politis semasa Yesus hidup. Kontroversi modern dimasukkan ke dalam rekonstruksi itu. Yesus dikeluarkan dari lingkungan sosial-Nya dan masuk ke dalam perdebatan modern.” Hemat saya, pernyataan tajam YK ini menunjukkan dirinya tidak mengetahui betul apa yang telah dan sedang dilakukan oleh para peneliti Yesus sejarah dewasa ini.


Para peneliti Yesus sejarah dengan reputasi internasional pada masa kini sudah lama meninggalkan epistemologi obyektivis positivis (atau historisisme) dalam usaha-usaha merekonstruksi Yesus yang hidup di masa lalu. Dengan epistemologi obyektivis ini, si sejarawan akan mengklaim dapat dengan obyektif seratus persen merekonstruksi peristiwa-peristiwa sejarah di masa lalu, tanpa keterlibatan subyektif dirinya di dalamnya. Begitu juga, epistemologi subyektivis (atau fenomenalisme atau narcissisme atau solipsisme historis) sudah tidak diterima lagi. Dengan epistemologi subyektivis ini, semua rekonstruksi sejarah akan dipandang hanya sebagai proyeksi dari lokasi sosial dan kepentingan-kepentingan sosio-politis kultural dan religius si sejarawan sendiri. Inilah yang dituduhkan YK di dalam pernyataannya di atas.

Tuduhan ini, sekali lagi, sama sekali salah sasaran. Para peneliti Yesus sejarah masa kini dengan sadar memegang epistemologi pasca-modernis yang disebut realisme kritikal atau interaktivisme atau relasionisme atau dialektika historis. Dengan epistemologi interaktivis ini, sesuai dengan namanya, setiap rekonstruksi peristiwa di masa lampau dipandang dihasilkan dari interaksi berimbang antara fakta-fakta sejarah obyektif di masa lalu dan faktor-faktor subyektif dari si sejarawan sendiri (antara lain, lokasi sosialnya, prasuposisi teologis dan ideologisnya, metodologi penelitian yang dipakainya, serta kriteria otentisitas yang dipilihnya untuk memilah-milah bahan bukti literer tekstual maupun bahan bukti material). Dengan epistemologi interaktivis ini, obyektivitas dan subyektivitas berdialektika menghasilkan potret-potret sejarah. Si sejarawan perekonstruksi Yesus sejarah yang memakai epistemologi interaktivis ini akan bersungguh-sungguh berupaya memasuki dunia sosial dan sistem sosial yang di dalamnya Yesus dari Nazareth dulu hidup dan berkarya. Usaha sungguh-sungguh ini tampak antara lain di dalam pemakaian pendekatan lintasilmu yang melibatkan antara lain antropologi lintasbudaya dan lintaszaman, sosiologi, arkeologi, ilmu sejarah dan kajian-kajian literer tekstual. Usaha serius lintasilmu ini diikuti kesadaran penuh si sejarawan untuk menghindarkan diri dari bahaya anakronisme dan etnosentrisme yang bisa timbul dari subyektivitas si sejarawan yang terlalu besar.

YK menekankan bahwa semua kisah Injil tentang mukjizat harus dilihat sebagai kisah-kisah sejarah, bukan semata-mata sebagai kisah-kisah teologis dengan kerugma atau pesan teologis. YK ingin menjadikan teologi Kristen sebagai historiografi Kristen, dan karena itu ia bisa berkata-kata tentang “historiografi injil kanonis” (sementara, kebanyakan pakar biasa menulis “teologi Injil kanonis”). Memasukkan teologi ke dalam historiografi sudah tidak bisa dilakukan lagi dalam historiografi modern, seperti saya sudah tegaskan dalam tulisan yang lalu. Tetapi baiklah, kita turuti saja kemauan YK ini, lalu kita akan sama-sama lihat apa akibat-akibatnya. Sebagai contoh baiklah kita ambil Matius 27:52-53, yang teksnya berbunyi demikian, “… dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.” Nah, kalau berita Matius ini dipandang sebagai sejarah faktual, bukan teologi, apakah kita siap secara intelektual untuk membayangkan peristiwa yang menyeramkan ini pernah terjadi? Sebaliknya, kalau catatan Matius ini kita dekati menurut literary genre-nya sebagai gambaran apokaliptik kebangkitan Yesus, pesan teologisnya akan dapat kita peroleh dengan baik.

Lalu, ada satu akibat lainnya. Kalau mukjizat-mukjizat dimasukkan ke dalam sejarah sebagai peristiwa-peristiwa sejarah, dan menjadi bagian dari sejarah empiris insani dan natural, semua mukjizat itu tidak bisa hanya sekadar diimani, tetapi harus tunduk pada penelitian-penelitian rasional obyektif empiris dan laboratoris, untuk dapat diketahui apakah memang dapat terjadi atau tidak dapat terjadi, seperti biasa dilakukan kepada segala bentuk peristiwa dalam sejarah! Jika mukjizat-mukjizat menjadi bagian dari sejarah, semua mukjizat ini juga harus tunduk kepada hukum-hukum logika naturalis historis dan harus dapat diulang di waktu-waktu lain dan di tempat-tempat yang berbeda. Apakah YK siap dengan ini?

Satu catatan terakhir untuk YK. Saya tidak tahu bagaimana mendamaikan dua pernyataan pertama YK berikut ini dengan sebuah pernyataan berikutnya lagi: “Memang Injil bersifat biografis dan sarat dengan propaganda, namun itu tidak berarti tanpa referensi historis.”; “Karena itu, narasi Injil tidak murni sejarah dan tidak boleh dibaca seperti membaca liputan di surat kabar.”; “Namun, genre sastra injil lebih tepat disebut narasi sejarah (narrated history).” Adalah kewajiban YK, untuk menunjukkan di dalam Injil-injil kanonis mana unsur-unsur “biografi”-nya, mana unsur-unsur “propaganda”-nya, mana unsur-unsur “tidak murni sejarah”-nya, dan mana yang narrated history-nya, sementara ia telah menegaskan bahwa dalam “historiografi injil kanonis” teologi adalah bagian dari sejarah. Apakah YK mampu menunjukkan unsur-unsur yang sudah disebutnya ini?

Tanggapan terhadap Deshi Ramadhani (DR)

Pertama, 
penyejajaran novel Dan Brown, The Da Vinci Code (DVC), dengan penemuan dan pengkajian prosopografis makam keluarga Yesus adalah sebuah kesalahan sangat serius dalam mengenal jenis masing-masing subyek. DVC jelas adalah sebuah novel fiksi; sedangkan penemuan dan penelitian makam keluarga Yesus adalah sebuah temuan obyektif arkeologis dan kajian saintifik lintasilmu yang masih sedang berlangsung.

Kedua, 
baik Simcha Jacobovici maupun James Cameron, bukanlah para sejarawan, bukanlah para pakar sains, melainkan para pembuat film. Sebagai para pembuat film tanpa training dalam penulisan sejarah, mereka tidak bisa dipaksa untuk menjadi sejarawan. Interpretasi yang sehat atas karya mereka yang berupa sebuah film dokumenter The Lost Tomb of Jesus harus bisa memperlihatkan di mana kekuatan film mereka dan di mana kelemahannya, di mana fakta dan di mana fiksinya.

Ketiga, 
ketika mengulas dokumen Kisah Filipus (Acts of Philip) minat Bovon bukanlah pada rekonstruksi historis kehidupan Mariamne yang, dalam Kisah Filipus, adalah sebutan untuk Maria Magdalena, melainkan pada sejarah tradisi yang memuat nama itu. Memang Kisah Filipus memuat bahan-bahan legendaris dan fabel; tetapi tidak berarti di dalamnya tidak ada rujukan-rujukan kepada sejarah. Misalnya, dalam Kisah Filipus dinyatakan bahwa Rasul Filipus mati dan dikuburkan di Hieropolis; ini adalah catatan sejarah yang sama dengan catatan sejarah Uskup Polykrates dari Efesus dalam suratnya kepada Santo Viktor yang ditulis kira-kira tahun 189-198. Kalaupun Kisah Filipus (abad 4) tidak dipakai, sebutan Mariamne untuk Maria Magdalena masih kita bisa temukan dalam dokumen-dokumen kuno lainnya: 1) Fragmen Yunani dari Injil Maria (akhir abad 2); 2) Tulisan Hippolytus, Refutatio Omnium Haeresium 5.1.7 (awal abad 3); 3) Origenes, Contra Celsum 5.62; dan 4) (dalam aksara Latin) tulisan Priscillian, Apologeticum 1.

Keempat, 
para arkeolog, paleografer, sejarawan, ahli Kitab Suci, ahli paleo-DNA, ahli statistik, ahli forensik, dan para pakar lain yang sedang meneliti makam keluarga Yesus tidak pernah memakai rujukan dalam Injil Filipus tentang Yesus yang mencium Maria Magdalena (mungkin pada mulutnya) dalam usaha-usaha mereka untuk membuktikan bahwa makam Talpiot itu adalah makam keluarga Yesus. Lagipula, dapat dipastikan Yesus dalam sejarah bukanlah seorang mistikus yang suka memberi “ciuman mistik” kepada para muridnya pada mulut mereka.

Kelima, 
pemeriksaan mitokondria DNA memang telah dilakukan hanya kepada human residue dari dalam osuarium “Yesus anak Yusuf” dan osuarium “Mariamene e Mara” (=Maria Magdalena); dan tidak dilakukan kepada human residue di dalam semua osuarium lainnya. Ini terjadi bukan karena para peneliti makam keluarga Yesus ini ingin membuktikan bahwa Yesus dan Maria Magdalena tidak bersaudara secara maternal, dan karena itu mereka adalah pasangan suami-istri. Masalahnya adalah karena di dalam semua osuarium lainnya sudah tidak bisa didapatkan human residue sedikitpun, karena bagian dalam dari semuanya telah dibersihkan dengan mesin penghisap debu ketika mau dipamerkan. Pemeriksaan DNA mungkin masih bisa dilakukan terhadap human residue dari osuarium “Yakobus anak Yusuf, saudara dari Yesus”; tetapi sementara ini, hal ini tidak bisa dilakukan karena osuarium ini dan tulang-belulang di dalamnya masih ditahan oleh pemerintah Israel.

Keenam, 
Prof. Andrey Feuerverger melakukan kajian statistik tidak dengan memperhitungkan enam nama, melainkan empat nama saja (“Yesus anak Yusuf”; “Maria”; “Maria Magdalena”; dan “Yoses”). Probabilitas 1:600 lahir dari kajian statistik atas empat nama ini. Jika osuarium “Yakobus” dimasukkan ke dalam perhitungan Feuerverger, probabilitasnya menjadi 1:30.000. Perhitungan statistik yang dilakukan John Koopmans atas ketujuh nama (termasuk nama “Yakobus”) menghasilkan peluang 1:42.723.672; namun harus dicatat, angka ini dihasilkan setelah melipatgandakan penduduk kota Yerusalem pra-tahun 70 sampai 30 kali angka rata-rata sebenarnya (50.000 orang). Data statistik ini menunjukkan betapa uniknya makam Talpiot itu sebagai makam keluarga Yesus.

Ketujuh, 
yang berkepentingan terhadap semua osuarium makam Talpiot dan osuarium “Yakobus” bukanlah CIA, tetapi IAA (Israel Antiquities Authorities). IAA berhasil mendapatkan dari Oded Golan foto osuarium Yakobus yang bercap “Expiry 76”; angka 76 ini menunjukkan bukan tahun pengambilan foto itu, tetapi batas kedaluwarsa kertas foto yang dipakai. Kepastian kuat bahwa osuarium “Yakobus” berasal dari makam Talpiot diperoleh dari pemeriksaan (dengan mikroskop elektron) “sidik jari” lapisan mineral patina osuarium ini yang “match” dengan “sidik jari” lapisan mineral patina dari dinding-dinding makam Talpiot dan dari semua osuarium yang ditemukan di dalamnya. Dalam artikel Amos Kloner (‘Atiquot, 1996) memang ditulis bahwa osuarium Yakobus itu “tidak berinskripsi” (Plain); tetapi identifikasi ini dibuat tergesa-gesa di lapangan (“field description”) dan bisa keliru, tidak dihasilkan dari penelitian yang seksama. Joseph Gat (seorang penggali makam Talpiot), misalnya, sebulan setelah penemuan makam itu di tahun 1980, telah keliru menyatakan bahwa hanya ada empat osuarium dari makam Talpiot yang berinskripsi, padahal sebetulnya (sesudah diteliti kembali) ada enam osuarium berinskripsi.

Kedelapan, 
gagasan bahwa makam Talpiot berisi tulang-belulang dari 35 orang atau lebih, bukan didasarkan pada kajian antropologis apapun atas tulang-belulang yang ada di dalam makam Talpiot, melainkan suatu tafsiran demografis yang diajukan Amos Kloner yang merupakan jumlah rata-rata individu per kuburan dari seluruh kuburan di sekitar Yerusalem yang sudah ditemukan.

Penutup: sebuah catatan pastoral

Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa penemuan makam Talpiot dan penelitian-penelitian yang sedang dijalankan terhadap makam ini sama sekali tidak mengganggu iman Kristen pada kebangkitan Yesus, apabila kita mendasarkan diri pada berita Perjanjian Baru dalam 1 Korintus 15:35-58, bahwa Yesus yang bangkit, adalah Yesus yang bangkit dalam tubuh atau raga kemuliaan, raga surgawi, raga rohani, yang tidak akan bisa mati lagi. Hanya dengan raga kemuliaan yang tidak bisa mati lagi ini, dan bukan di dalam raganya yang lama yang dapat mati lagi, Yesus Kristus dapat menjadi Tuhan yang hidup, yang hadir di dalam doa dan kehidupan orang Kristen kapanpun dan di manapun.

Note:
3 (Tiga) Tulisan Ioanes Rakhmat dapat dilihat di Blognya sumber
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment