Showing posts with label Siapa TUHAN mu?. Show all posts
Showing posts with label Siapa TUHAN mu?. Show all posts

Benarkah Allah maha pengasih dan penyayang?

Benarkah Allah maha pengasih dan penyayang?

Adakah Anda mengenal seseorang yang kebiasaanya adalah “mengkotak-kotakkan” sesamanya. Mungkin berdasarkan tingkat pendidikan, sosial, pekerjaan dll? Seakan apa yang dimilikinya adalah hasil usahanya sendiri dan bukan karena kemurahan Allah.

Sebagai umat beragama, sudah seharusnya kita mengucap syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Bukan saja atas kekayaan, pendidikan, pekerjaan yang kita punya. Tetapi juga kesehatan, umur yang panjang, bahkan udara yang kita hirup adalah nikmat dari Allah yang patut kita syukuri.

Tuhan Penjahat No.1

Tuhan Penjahat No.1

Gubernur Jawa Timur saat diwawancara berkata, " Memang semua iniadalah kelalaian PT.Lapindo. Tapi sewajarnya kita bisa menyikapi dengan positive, karena ujian dan semua cobaan yg ditimpakan kepada bangsa ini, adalah kehendak Tuhan".

Ketika penyanyi Muksin Al-atas digugat orang tua yg anaknya meninggal tertabrak mobilnya, dia berkata, "Sabar pak, saya gak bisa mengembalikan nyawa anak bapak. Saya mesti bilang apalagi, semua sudah Takdir Tuhan".

Saya pernah ngobrol dengan Om Zenul, paman saya yg 10 tahun nganggur terkena PHK. Usaha warungnya selalu buka tutup. odalnya terus selalu kemakan. "Yaaah.. ndry... mo ngomong ape lagi kite..Abisnye dulunye kite ude salah teken kontrak ame Tuhan disononye".

Dari Epistemologi Historis, Kembali Ke Makam Keluarga Yesus

Dari Epistemologi Historis, Kembali Ke Makam Keluarga Yesus

Catatan pengantar

Tulisan di bawah ini adalah sebuah tanggapan Ioanes Rakhmat terhadap tulisan Yonky Karman (YK), Menimbang Historiografi Keagamaan, dan tulisan Deshi Ramadhani (DR), Mendisiplinkan Faktualitas Makam Yesus. Tulisan-tulisan YK dan DR ini (yang dapat diminta langsung pada penulis masing-masing) merupakan tanggapan-tanggapan terhadap tulisan Ioanes Rakhmat sebelumnya, Penulisan Sejarah dan Penelitian Makam Keluarga Yesus, yang telah terbit dalam lembaran Bentara Kompas 31 Mei 2007. Karena pertimbangan-pertimbangan tertentu, pihak Kompas sampai kini (22 Januari 2008) belum bisa menerbitkan ketiga tulisan ini.

Tanggapan terhadap Yonky Karman (YK)

Dalam tulisan tanggapannya, YK tampak jelas menyatakan bahwa saya memandang sejarah bisa ditulis obyektif seratus persen, yang menurutnya tidak mungkin bisa dilakukan karena dalam penulisan sejarah prasuposisi si sejarawan selalu berperan. Hemat saya, dalam hal ini YK telah tidak cermat membaca tulisan saya yang lalu (Kompas, 31 Mei 2007), yang di dalamnya dengan terang saya menyatakan, “[J]elas tidak ada uraian sejarah yang obyektif sepenuhnya, dan selalu akan ada faktor subyektif dari si sejarawan yang ikut berperan.” YK dengan tajam juga menyatakan, “Penganjur Yesus sejarah mengklaim berhasil merekonstruksi Yesus yang historis dan obyektif. Padahal, rekonstruksi itu didorong isu-isu kontroversial di masa modern, bukan kontroversi religius dan politis semasa Yesus hidup. Kontroversi modern dimasukkan ke dalam rekonstruksi itu. Yesus dikeluarkan dari lingkungan sosial-Nya dan masuk ke dalam perdebatan modern.” Hemat saya, pernyataan tajam YK ini menunjukkan dirinya tidak mengetahui betul apa yang telah dan sedang dilakukan oleh para peneliti Yesus sejarah dewasa ini.

AgamaMU AgamaKU AGAMA KITA

AgamaMU AgamaKU AGAMA KITA

Sebuah Renungan Spiritual, Bukan Tulisan Ilmiah –Anand Krishna
God is too Bigto be contained in one single container.

Apa yang dirasakan oleh sekuntum bunga yang baru saja mekar? Bahagia.... Kebahagiaan yang tak terjelaskan lewat kata-kata. Itulah pertama kalinya ia mengalami sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang takakan dialaminya lagi. Sesuatu yang terjadi hanya "sekali" saja. Ia bersuka-cita, ia menari dan menyanyi riang..... Ia mengumpulkan para sahabat dan kerabat untuk berbagi berita baik itu dengan mereka: "Lihat, lihat.... Aku telah mekar!"

Apa yang terjadi, How did it happen? Entah apa yang terjadi, entah bagaimana... .. Ia berusaha untuk mejelaskan, tetapi tidak mampu. Ketika Kabir, mistik sufi asal India Utara itu ditanya, "Apa yang kau rasakan saat itu?" Ia menjawab, "Kulihat sungai Ganga yang berbada lebar itu terbakar, dan ikan-ikannya memanjat pohon!"

Nanak, yang kelak akan dikaitkan dengan agama Sikh, salah satu diantara agama-agama baru yang berusia dibawah enam abad, menjawab dengan cara lain: "Aku melihat langit terbelah, dan turun hujan cahaya.....Cahaya Murni!"

Namun, mereka pun menyadari bahwa pengalaman mistik mereka tidak berarti apa-apa jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Maka, terpaksa, mereka berusaha untuk meng-"akal"- kan sesuatu yang sungguhnya berada diluar akal, supaya kita dapat memahaminya. Supaya"masuk-akal" kita!

"Agama, dan kitab-kitab suci," kata Murshidku, Sheikh Baba, seorang tukang es di Lucknow (Pusat Peradaban Islam di India Utara), "adalah hasil upaya seperti itu."