Jam Makkah, Standar Waktu Baru

Jam Makkah, Standar Waktu Baru

jam Haji Mekkah
Warga Arab Saudi berharap jam terbesar di dunia yang menjulang tinggi di Makkah akan menjadikan kota suci umat Islam itu sebagai standar waktu baru pengganti  Greenwich Mean Time (GMT).

”Semua orang tertarik melihat jam ini meski informasinya masih kurang memadai. Kami berharap Makkah bisa menjadi pusat zona waktu dunia, jadi tidak sekadar memiliki jam raksasa untuk dipamerkan,” ungkap seorang warga Makkah, Hani al-Wajeeh.


Pihak pengembang kompleks tujuh menara Abraj al-Bait, tempat jam raksasa itu berada, masih merahasiakan informasi rinci mengenai bangunan itu. Namun sosoknya sudah dapat terlihat dengan jelas.
Mohammed al-Arkubi, manajer Royal Mecca Clock Tower Hotel, menyatakan pembuatan jam raksasa yang digarap oleh perusahaan Dubai, Premiere Composite Technologies, tersebut sebenarnya memiliki tujuan khusus.

Para pemikir Islam berharap jam raksasa itu bisa menggantikan Greenwich sebagai standar waktu dunia, dan berargumen bahwa Makkah sebagai titik pusat bumi yang sebenarnya.


Jam tersebut merefleksikan cita-cita pemikir muslim untuk menggantikan GMT yang telah berlaku selama 126 tahun, dengan standar waktu baru Makkah.


Dalam sebuah konferensi di Doha pada 2008, para ulama dan pemikir muslim mempresentasikan argumen ilmiah bahwa Makkah adalah garis waktu global yang sebenarnya. Makkah adalah titik pusat dunia dan merupakan zona nol magnet bumi karena posisinya yang sejajar dengan sumbu magnet utara.

Gedung Terluas

Kompleks Abraj al-Bait memiliki tujuh gedung menara yang menjulang. Enam di antaranya mempunyai 42 hingga 48 lantai sementara di tengahnya berdiri sebuah menara jam yang tingginya hampir dua kali lipat dari keenam menara lainnya.

Kompleks tersebut memiliki 3.000 kamar hotel dan apartemen, pusat perbelanjaan lima lantai, ruang shalat, dan ruang pertemuan yang sangat luas. Alhasil, luas lantai secara keseluruhan mencapai 1,5 juta m2 sehingga menjadikannya sebagai kompleks gedung terluas di dunia.


Abraj al-Bait akan ditempati oleh tiga hotel kelas dunia, yakni Fairmont, Raffles, dan Swiss Hotel. Kompleks itu juga mempunyai ratusan apartemen mewah yang sebagian besar didesain agar bisa menghadap ke arah Masjidilharam.


Proyek itu merupakan bagian dari rencana pemerintah Arab Saudi untuk mengembangkan Makkah agar dapat menampung sebanyak 10 juta jamaah haji dari seluruh dunia setiap tahun, atau sekitar tiga kali lipat kapasitas saat ini.

Jam raksasa menjadi fokus perhatian di kompleks itu. Elevator akan mengantar para pengunjung naik ke balkon besar yang berada tepat di bawah muka jam tersebut. Dari sana, pengunjung dapat melihat pemandangan kota Makkah. Pengunjung juga bisa menikmati museum Islam dan ruang observasi astronomi berlantai empat.


Tinggi menara jam mencapai 600 meter, termasuk puncak bulan sabit emasnya, sehingga menjadikannya sebagai menara tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa (828 meter) di Dubai.


Sekitar 21.000 lampu warna putih dan hijau yang terpasang di puncak jam raksasa itu, akan berkedip untuk menandai waktu shalat wajib. Lampu warna itu akan terlihat dari jarak sekitar 30 kilometer. 


Sedangkan pada peringatan hari-hari besar umat Islam, 16 lampu sorot raksasa akan dinyalakan ke arah langit. sumber
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment