Lepas Hijab, Marshanda Dihujat

Lepas Hijab, Marshanda Dihujat

PENYANYI dan bintang film Marshanda kembali berulah. Setelah beberapa tahun lalu sempat memposting amarahnya melalui Youtube, kali ini artis yang tengah menghadapi proses sidang cerai dengan suaminya, Ben Kasyafani itu meng-upload wajahnya tanpa menggunakan hijab.

Gambar itu di-upload di akun Instagram miliknya, @marshanda99 dan di akun Tumblr miliknya www.marshanda.tmblr.com. Padahal sejak menikah, penampilan Marshanda berubah.

Bintang sinetron Kisah Sedih di Hari Minggu itu memutuskan untuk berhijab. Bahkan, dia juga getol memberikan tutorial hijab di dunia maya sebagai artis dan juga motivartis (motivator artis).

Sepasang Kekasih Mesum di Swalayan Digerebek WH

Sepasang Kekasih Mesum di Swalayan Digerebek WH

Petugas Wilayatul Hisbah (WH) bersama Dinas Syariat Islam dibantu Polsek Langsa Barat, mengamankan sepasang pelaku mesum pada penggerebekan di salah satu swalayan di Kota Langsa, Selasa (17/6) dini hari sekira pukul 02.00 WIB.

Informasi diperoleh Rakyat Aceh, sepasang khalwat yakni Yuandani (22) warga, Kuta Binjai Aceh Timur, pekerja swalayan dan Lisa (21) warga Simpang Ulim Aceh Timur.

Kepada Rakyat Aceh, Kepala Dinas Syariat Islam Langsa, Drs H Ibrahim Latif, MM menerangkan, pengamanan pelaku khalwat berawal laporan masyarakat, ada sepasang remaja non muhrim diduga berbuat mesum dalam swalayan di jalan A. Yani, persisnya depan SPBI Harapan Langsa.

Tiga Pasangan Digerebek Mesum Di Mobil

Tiga Pasangan Digerebek Mesum Di Mobil

Tiga pasangan muda – mudi pelanggar Qanun Syarita Islam digerebek warga diduga mesum di dalam mobil rental, Rabu (2/7) kemarin. Dua laki-laki diduga pelaku khalwat berhasil melarikan diri sementara mobil dan supirya diamankan ke Kantor PP dan WH Kota Lhoskeumawe, Kasatpol PP dan WH Kota Lhoskeumawe, M Irsyadi kepada Rakyat Aceh, Kamis (3/6) mengatakan, saat ditangkap pasangan mesum dalam usai melakukan hajatnya. “Kepada petugas mereka mengaku telah melakukan hubungan layaknya suami istri,” ungkpa Irsyadi.

Dikatakan, dalam pengrebekan dilakukan warga pada Rabu (2/6) serkitar pukul 10.30 WIB Di Desa Rayek Kareung, Blang Mangat, Lhokseumawe, terhadap pasangan dua pasangan mesum dengan mengunakan mobil rental namun dua laki – laki pelaku mesum itu berhasil melarikan diri. Namun demikian supir beserta satu unit mobil rental berhasil diamankan.

“ Pasangan wanita dijemput mengunakan mobil di salah satu wisma di Kota Lhoksuemawe dan di bawa ke Desa Rayek Kareung. Berdasarkan pengakuan warga aksi mesum dilakukan didalam mobil rental tersebut,” jelas Irsyadi. Sementara pasangan lain nya, MH (27) Kampung Jawa Baru, Banda Sakti, Lhoskeumawe dengan MR (29) baby sitter, warga Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, di tangkap di Desa Seuneubok, Kecamatan Blang Mangat akan di nikahkan.

Hal itu dikarenakan keduanya kepada petugas mengaku telah melakukan hubungan layak nya suami istri di kawasan jalan line pipa. “Keduanya sudah kita panggil orangtua beserta aparatur desa untuk dinikahkan,” tuturnya. Amatan dilapangan selain mengamankan pasangan mesum. Pihak satpol juga turut mengamankan mobil dan sepeda motor yang digunakan para pelanggar.(val) PELAKU MESUM : Dua wanita diduga pelaku Mesum saat berada di tahanan Kantor Satpol PP dan Wh Kota Lhokseumawe, Kamis (3/6). rakyat aceh/nauval

Polisi Ringkus Penculik Mahasiswi Akbid

Polisi Ringkus Penculik Mahasiswi Akbid

Petugas Polres Lhokseumawe, Selasa dinihari (17/6) berhasil menangkap tiga dari lima pelaku penculikan mahasiswi Akademi Kebidanan (Akbid) Pemda Aceh Utara, Novi Maulizar (19) di Simpang Desa Pinto Makmur Bungkah, Muara Batu, Aceh Utara.

Dugaan sementara, pelaku nekad menculik karena cinta. Namun keluarga korban juga sempat dimintai tebusan Rp 70 juta oleh pelaku yang masih buron.

Ketiga pelaku, masing-masing Safwandi (25) asal Dusun Cot Suwe, Gampong Blang Manyak, Kecamatan Sawang, yakni otak penculikan sekaligus pacar korban. Dia ditangkap di rumah istrinya di Desa Gunci, Kecamatan sama, kemarin sekitar pukul 06.00 WIB. Sedangkan, dua rekannya, M Amin (26) dan Mawardi (27) asal Gunci ditangkap satu jam kemudian di kawasan Keude Sawang. Keduanya diduga ikut membantu kejahatan yang dilakukan pelaku utama.

Waspadai Perilaku Homoseksual di Dalam Pesantren!

Waspadai Perilaku Homoseksual di Dalam Pesantren!

Jika kita mendengar kata pesantren, mungkin yang terlintas di pikiran kita adalah nuansa agamis atau rutinitas ketat dan berbasis Islami. Penghuni pesantren lekat dengan kegiatan mengaji, shalat dan kegiatan rohani lainnya. Namun tahukah Anda bahwa ternyata fakta ada tidak seindah itu. Ada sisi hitam yang cukup mengejutkan di balik kokohnya tembok pondok pesantren.

Salah satu istilah yang paling kita kenal adalah mairil, atau homoseksual versi pesantren. Fenomena ini berhasil diungkap dengan apik oleh Syarifuddin lewat bukunya yang berjudul ‘Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren. Dalam buku yang diterbitkan tahun 2005 ini, penulis benar-benar menyuguhkan bagaimana ketatnya aturan di pondok pesantren justru mendorong para santri untuk melakukan aktivitas seksual dengan sesama santri.

Tindakan ini dilakukan pelaku saat korban sedang tertidur lelap di malam hari, sehingga korban tidak akan menyadari bahwa dia telah jadi pelampiasan nafsu orang lain. Tentu saja tindakan yang bisa dikategorikan pelecehan seksual ini dilakukan secara sembunyi. Tak hanya terjadi di kalangan santri, ternyata fenomena ini mungkin juga sempat terjadi di asmara santriwati.

Uniknya, fenomena seperti ini ternyata hanya terjadi selama pelaku belajar di pondok pesantren. Setelah dia keluar dari pintu pondok, mereka meninggalkan kebiasaan itu dan kembali pada orientasi seksual normal. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa perbuatan ini terjadi karena didorong oleh libido seksual yang sedang tak terkendali.

Santri Muda Rawan Jadi Korban Pelecehan Seksual di Pesantren

Santri Muda Rawan Jadi Korban Pelecehan Seksual di Pesantren

Banyak orang tua mempercayakan pendidikan anaknya di pondok pesantren, dengan harapan sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang taat pada tuntunan agama. Nyatanya, dalam beberapa kasus, banyak santri yang justru terjerumus dalam perilaku homoseksual, atau biasa dikenal dengan istilah mairil.

Dalam buku berjudul ‘Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren’ yang ditulis Syarifuddin, terungkap dengan jelas bagaimana praktek ini menjamur di kalangan santri. Rutinitas yang monoton dan kurangnya interaksi dengan sesama jenis diduga menjadi pemicu pemuasan hasrat seksual pada sesama jenis. Saat korban terlelap di malam hari, pelaku mulai melancarkan aksinya dengan sangat rapi sehingga korban tak menyadari apa yang menimpanya.

Ironisnya, hal ini justru banyak dilakukan para senior yang harusnya memberikan contoh baik pada yang lebih muda. Sasarannya jelas, para santri junior yang masih lugu dan belum mengenal kehidupan pesantren menjadi sasaran utama aksi ini. Meski demikian, tidak jarang pelaku dan korban memang sudah saling sepakat dan melakukan aktivitas seksual secara suka sama suka.

Umumnya para pelaku mairil sudah memiliki kesepakatan dengan pelaku lainnya. Seperti halnya hubungan asmara, masing-masing pelaku sudah punya pasangan mairil sendiri-sendiri, sehingga tak boleh ada orang lain yang mengganggunya. Jika hal ini sampai dilanggar, maka konflik, perkelahian dan persereruan jelas menjadi konsekuensi yang harus ditanggung. Selain itu, pasangan mairil juga akan mendapat perlakuan istimewa dari pelaku, seolah mereka benar-benar sepasang kekasih.

Gaya “Bercinta” Ala Santri

Gaya “Bercinta” Ala Santri

Sebut saja namanya Lalaki. Senior di “Forum Diskusi Bambu Runcing”. Malam minggu kemarin, ia menyempatkan hadir sekaligus “curhat” kisah cintanya yang kandas di tangan pengurus saat mondok di salah satu pesantren terkenal di daerah Tasikmalaya.

Mengenal sosok wanita dan berpacaran dengannya merupakan pengalaman tersendiri, yang menjadi “bumbu” penyedap di tengah kepenatan aktivitas mengaji di pondok. Sayang, meski cinta “Lalaki” tak bertepuk sebelah tangan, ia harus merelakan “tali” kasihnya dipotong pengurus, sekaligus merelakan helai demi helai rambutnya yang gondrong sebahu.

Memang, selama saya berada di pondok merasakan hal yang sama. Sebagai makhluk berjenis kelamin pria, tentu saya mempunyai rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Namun, sebagai santri, saya harus mentaati segala peraturan yang telah ditetapkan oleh pondok pesantren yang saya berdiam di dalamnya.

Selama ini, kesempatan bertemu “makhluk” bernama wanita di lingkungan pondok sangat terbatas. Beruntunglah saya bukan santri pondok biasa, melainkan dibarengi dengan sekolah. Dengan demikian, kesempatan saya untuk mencuci “libido” saya lebih leluasa dibandingkan santri yang berstatus mondok permanen.

Selain di sekolah, jangan harap santri pria dapat bertemu dengan santri wanita, seperti yang sering digambarkan di sinetron-sinetron picisan mengenai kehidupan pesantren. Tempat mengaji yang terpisah dan tempat beribadah yang terpisah pula menjadi “tembok” tebal untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan bernama wanita.

Di saat rasa rindu dan kebutuhan akan romantisme ala anak muda menyeruak, memenuhi setiap jengkal relung sanubari, kami hanya bisa menatap nanar kobong (tempat mondok) para santri wanita yang terletak di atas rumah Kiai dan persis di sebelah Masjid Pria.

Hampir setiap malam, bagi santri-santri “pemuja”, menatap ke atas rumah Kiai sembari menggoreskan luapan cintanya di atas selembar kertas putih. Esoknya, kertas itu dititipkan kepada santri yang -kebetulan- bersekolah. Persis seperti menitip surat kepada pak pos. Bedanya surat yang ini tanpa perangko dan -biasanya- memakai embel-embel, “Mohon dirobek atau dibakar setelah membaca”.

Bukan kenapa, melainkan bahaya besar dan termasuk siaga satu bila surat itu jatuh ke tangan pengurus pondok yang telah ditetapkan secara musyawarah. Hukuman telah menanti. Dari disuruh menalar kitab, dibotaki, hingga dipanggil kedua orang tuanya. Jadi wajar surat itu memakai embel-embel tersebut di paragraf terakhir, dengan kata-kata NB: yang besar.

Dengan menyimak kisah di atas, wajar saja jika santri jaman dahulu sering dijodohkan oleh kiai-nya sendiri. Atau kalau tidak mereka biasanya telat untuk menikah. Tapi itu juga tergantung individu masing-masing. Namun, di pesantren saya, santri yang menetap (non sekolah) biasanya memang berstatus “bujang lapuk” dibandingkan dengan santri yang bersekolah.

Bagaimana dengan saya?
Saya, sebagai pria, jelas merasakan dorongan “libido” yang sama. 
Namun, mengingat besarnya harapan orang tua kepada saya, saya harus menempatkan kepercayaan orang tua dengan semestinya. Untuk saat ini, sebagai pelipur lara di kala malam, cukup-lah buku-buku yang menemani segala kegalauan hati yang saya alami.

Walhasil, “bercinta” di Pesantren itu bak peribahasa “Ngeri-ngeri sedap”!.