Showing posts with label Pencabulan di Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Pencabulan di Pesantren. Show all posts

Pimpinan Pondok Pesantren Oral Seks Kemaluan 4 Santri

Pimpinan Pondok Pesantren Oral Seks Kemaluan 4 Santri

Entah setan apa yang merasuki, Syamsuddin alias Ok Lima Laras (42). Meski posisinya sebagai pimpinan Pondok Pesantren, dia bisa terhasut juga hingga nekat mengoralseks kemaluan 4 santri.

RANTAU PRAPAT, JAM 15.00 WIB
Tapi, aksi mesum sang pimpinan Pondok Pesantren Danzawiyah Arkanuddin di Desa Pulo Dogom, Kecamatan Kualuh Hulu, Labura, itu tak berlangsung lama. Begitu terbongkar, Syamsuddin pun memilih menyerahkan diri ke Polsek Kualuh Hulu dan kini mendekam di penjara.

Aksi bejat Syamsuddin terbongkar setelah 1 dari 4 santri yang dicabulinya yakni, FA. Senin (24/3) lalu, pelajar Kelas 2 Tsanawiyah ini cerita ke orangtuanya jika kemaluannya dioral seks (isap) oleh Syamsuddin. Pengkuan FA tak langsung dilaporkan orangtuanya ke polisi, melainkan melakuan penyelidikan. Hasilnya, ternyata tak cuma FA yang dicabuli, 3 santri lainnya yakni, AH, santri Kelas 3 Tsanawiyah; FM, santri Kelas 3 Tsanawiyah dan HA, santri Kelas 2 Aliyah juga menjadi korbannya.

Waspadai Perilaku Homoseksual di Dalam Pesantren!

Waspadai Perilaku Homoseksual di Dalam Pesantren!

Jika kita mendengar kata pesantren, mungkin yang terlintas di pikiran kita adalah nuansa agamis atau rutinitas ketat dan berbasis Islami. Penghuni pesantren lekat dengan kegiatan mengaji, shalat dan kegiatan rohani lainnya. Namun tahukah Anda bahwa ternyata fakta ada tidak seindah itu. Ada sisi hitam yang cukup mengejutkan di balik kokohnya tembok pondok pesantren.

Salah satu istilah yang paling kita kenal adalah mairil, atau homoseksual versi pesantren. Fenomena ini berhasil diungkap dengan apik oleh Syarifuddin lewat bukunya yang berjudul ‘Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren. Dalam buku yang diterbitkan tahun 2005 ini, penulis benar-benar menyuguhkan bagaimana ketatnya aturan di pondok pesantren justru mendorong para santri untuk melakukan aktivitas seksual dengan sesama santri.

Tindakan ini dilakukan pelaku saat korban sedang tertidur lelap di malam hari, sehingga korban tidak akan menyadari bahwa dia telah jadi pelampiasan nafsu orang lain. Tentu saja tindakan yang bisa dikategorikan pelecehan seksual ini dilakukan secara sembunyi. Tak hanya terjadi di kalangan santri, ternyata fenomena ini mungkin juga sempat terjadi di asmara santriwati.

Uniknya, fenomena seperti ini ternyata hanya terjadi selama pelaku belajar di pondok pesantren. Setelah dia keluar dari pintu pondok, mereka meninggalkan kebiasaan itu dan kembali pada orientasi seksual normal. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa perbuatan ini terjadi karena didorong oleh libido seksual yang sedang tak terkendali.

Santri Muda Rawan Jadi Korban Pelecehan Seksual di Pesantren

Santri Muda Rawan Jadi Korban Pelecehan Seksual di Pesantren

Banyak orang tua mempercayakan pendidikan anaknya di pondok pesantren, dengan harapan sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang taat pada tuntunan agama. Nyatanya, dalam beberapa kasus, banyak santri yang justru terjerumus dalam perilaku homoseksual, atau biasa dikenal dengan istilah mairil.

Dalam buku berjudul ‘Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren’ yang ditulis Syarifuddin, terungkap dengan jelas bagaimana praktek ini menjamur di kalangan santri. Rutinitas yang monoton dan kurangnya interaksi dengan sesama jenis diduga menjadi pemicu pemuasan hasrat seksual pada sesama jenis. Saat korban terlelap di malam hari, pelaku mulai melancarkan aksinya dengan sangat rapi sehingga korban tak menyadari apa yang menimpanya.

Ironisnya, hal ini justru banyak dilakukan para senior yang harusnya memberikan contoh baik pada yang lebih muda. Sasarannya jelas, para santri junior yang masih lugu dan belum mengenal kehidupan pesantren menjadi sasaran utama aksi ini. Meski demikian, tidak jarang pelaku dan korban memang sudah saling sepakat dan melakukan aktivitas seksual secara suka sama suka.

Umumnya para pelaku mairil sudah memiliki kesepakatan dengan pelaku lainnya. Seperti halnya hubungan asmara, masing-masing pelaku sudah punya pasangan mairil sendiri-sendiri, sehingga tak boleh ada orang lain yang mengganggunya. Jika hal ini sampai dilanggar, maka konflik, perkelahian dan persereruan jelas menjadi konsekuensi yang harus ditanggung. Selain itu, pasangan mairil juga akan mendapat perlakuan istimewa dari pelaku, seolah mereka benar-benar sepasang kekasih.

Pemerkosaan dan Pencabulan di Pesantren

Pemerkosaan dan Pencabulan di Pesantren

Pencabulan di Pesantren? Memangnya, Ada?
janganlah anda menutup mata.
Setan di jaman ini tampaknya sudah bisa menjamah segala profesi dan tempat! Tak tanggung-tanggung, profesi mulia guru dan tempat sesuci pesantren pun tak luput dari perbuatan-perbuatan bejat.

Dari tahun 2008 hingga 2013, tepatnya bulan Februari kemarin banyak lho kasus pelanggaran asusila yang terjadi di pesantren.

Di Jawa Tengah saja disinyalir terdapat 85 wanita korban kekerasan seksual di lingkungan pesantren dari tahun 2009 hingga tahun 2012. Data ini diperoleh dari icrp-online.org.

Di situs lain, kompasiana.com, dituliskan juga bahwa ada seorang ustadz yang menyodomi santrinya selama 9 tahun, dilakukan sejak tahun 2001 dan baru terungkap pada tahun 2010.