Showing posts with label memperkosa santri. Show all posts
Showing posts with label memperkosa santri. Show all posts

Perkosaan & Mut'ah - Tafsir Thabari An-Nisaa 24

Perkosaan & Mut'ah - Tafsir Thabari An-Nisaa 24

Qur'an, Sura An-Nisaa', ayat 24 mengandung 3 pokok bahasan:
  1. Ijin memperkosa tawanan wanita kafir yang telah menikah, saat suami kafirnya masih hidup;
  2. Ijin menikahi wanita merdeka dan budak melalui pembayaran mahar;
  3. Ijin menikah mut'ah.
Qur'an, Sura An-Nisaa', ayat 24
  • dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.
  • Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.
  • Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Dalam tafsir Qur'an-nya, Thabari menerangkan ketiga pokok bahasan dalam Q 4:24 dalam 20 lembar halaman. Dalam kesempatan ini, saya hanya akan mengutip bahasan nomer (1) dan (2) saja, karena kedua pokok ini merupakan pokok perdebatan yang paling kontroversial. 

4 siswa SMP cabuli Muslimah Berjilbab

4 siswa SMP cabuli Muslimah Berjilbab

Cirebon Geger, Empat Siswa SMP Cabuli Siswi Berjilbab

Suasana di Gedung Bank Indonesia Cirebon, Jawa Barat mendadak geger. Pasalnya, sejumlah jurnalis melihat peristiwa pencabulan oleh 4 siswa terhadap seorang siswi berjilbab di kawasan pembuangan limbah CUDP. Sontak, para jurnalis dan beberapa pegawai BI bergerak dari lantai empat gedung untuk menyelamatkan siswi tersebut.

Jurnalis Cirebon akhirnya berhasil menggagalkan upaya pemerkosaan terhadap seorang siswi SMP oleh empat teman sekolahnya. Saat meliput sebuah acara di Gedung Bank Indonesia Cirebon, tak sengaja tujuh orang juruwarta itu melihat empat siswa SMP memegangi paksa siswi berjilbab tersebut.

Santri Muda Rawan Jadi Korban Pelecehan Seksual di Pesantren

Santri Muda Rawan Jadi Korban Pelecehan Seksual di Pesantren

Banyak orang tua mempercayakan pendidikan anaknya di pondok pesantren, dengan harapan sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang taat pada tuntunan agama. Nyatanya, dalam beberapa kasus, banyak santri yang justru terjerumus dalam perilaku homoseksual, atau biasa dikenal dengan istilah mairil.

Dalam buku berjudul ‘Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren’ yang ditulis Syarifuddin, terungkap dengan jelas bagaimana praktek ini menjamur di kalangan santri. Rutinitas yang monoton dan kurangnya interaksi dengan sesama jenis diduga menjadi pemicu pemuasan hasrat seksual pada sesama jenis. Saat korban terlelap di malam hari, pelaku mulai melancarkan aksinya dengan sangat rapi sehingga korban tak menyadari apa yang menimpanya.

Ironisnya, hal ini justru banyak dilakukan para senior yang harusnya memberikan contoh baik pada yang lebih muda. Sasarannya jelas, para santri junior yang masih lugu dan belum mengenal kehidupan pesantren menjadi sasaran utama aksi ini. Meski demikian, tidak jarang pelaku dan korban memang sudah saling sepakat dan melakukan aktivitas seksual secara suka sama suka.

Umumnya para pelaku mairil sudah memiliki kesepakatan dengan pelaku lainnya. Seperti halnya hubungan asmara, masing-masing pelaku sudah punya pasangan mairil sendiri-sendiri, sehingga tak boleh ada orang lain yang mengganggunya. Jika hal ini sampai dilanggar, maka konflik, perkelahian dan persereruan jelas menjadi konsekuensi yang harus ditanggung. Selain itu, pasangan mairil juga akan mendapat perlakuan istimewa dari pelaku, seolah mereka benar-benar sepasang kekasih.

Pemerkosaan dan Pencabulan di Pesantren

Pemerkosaan dan Pencabulan di Pesantren

Pencabulan di Pesantren? Memangnya, Ada?
janganlah anda menutup mata.
Setan di jaman ini tampaknya sudah bisa menjamah segala profesi dan tempat! Tak tanggung-tanggung, profesi mulia guru dan tempat sesuci pesantren pun tak luput dari perbuatan-perbuatan bejat.

Dari tahun 2008 hingga 2013, tepatnya bulan Februari kemarin banyak lho kasus pelanggaran asusila yang terjadi di pesantren.

Di Jawa Tengah saja disinyalir terdapat 85 wanita korban kekerasan seksual di lingkungan pesantren dari tahun 2009 hingga tahun 2012. Data ini diperoleh dari icrp-online.org.

Di situs lain, kompasiana.com, dituliskan juga bahwa ada seorang ustadz yang menyodomi santrinya selama 9 tahun, dilakukan sejak tahun 2001 dan baru terungkap pada tahun 2010.

Kyai Dihajar Massa karena Dituding Hamili Santri

Kyai Dihajar Massa karena Dituding Hamili Santri

Kekerasan, Anarkis dan pencabulan makin marak di Islam

mungkin salah tafsir atau memang menjalankan sunah, mari kita cermati kembali

Kepolisian Resor Tulungagung Jawa Timur, mengevakuasi seorang tokoh agama (kiai) beserta keluarga dan belasan santrinya dari amuk massa. Massa menuding, kiai itu telah berbuat asusila terhadap santriwatinya hingga hamil enam bulan.

Kiai berinisial Jaz (50), asal Desa Sidem, Kecamatan Gondang, tersebut, Jumat (7/3/2014), masih diamankan di Mapolres Tulungagung untuk menghindari amuk warganya.

Ustadz Perkosa Santrinya di Kandang Sapi

Ustadz Perkosa Santrinya di Kandang Sapi

Ini benar-benar memalukan. Meski dikenal sebagai ustadz, tapi tega menodai gadis di bawah umur. Padahal, sudah memiliki istri dan anak. Perilaku memalukan itu dilakukan Riyanto (45), warga Dusun Mojoroto, Desa Mojorejo, Kec. Jetis, Mojokerto. Dia akhirnya berurusan dengan polisi karena mencabuli santrinya sendiri, sebut saja namanya Lia, gadis berusia 12 tahun.

Orang tua korban akhirnya melaporkan Riyanto ke Polres Mojokerto. Rabu (30/3) kemarin, si ustadz kampung ini diamankan polisi. Informasi yang dihimpun, peristiwa itu sendiri terjadi pada Sabtu (26/3) lalu. Dugaan pencabulan itu mencuat, saat sekitar pukul 19.30 WIB ayah korban, Rateman (40), memergoki putrinya keluar dari kandang sapi di belakang rumah tersangka. Lelaki asal Sidoarjo tersebut, waktu itu hendak menjemput putrinya pulang ke Sidoarjo.

Hingga keesokan harinya, Rateman menanyai putrinya itu, kenapa berada di kandang sapi yang gelap. Betapa terkejutnya dia, ketika mendapat jawaban jika anaknya dipaksa melayani birahi sang ustadz. Korban menceritakan, waktu itu dirinya dicium pipinya dan diremas (maaf) payudaranya.

Sementara, saat diperiksa di Unit PPA Satreskrim Polres paman korban yang ikut memberikan keterangan menceritakan, peristiwa tersebut bukan hanya terjadi sekali saja, melainkan 11 kali. Lelaki yang tak ingin disebutkan identitasnya juga menceritakan, bahwa korban mengaku juga dipaksa melakukan hubungan intim layaknya suami istri.

"Keponakan saya itu diperkosa sama guru ngajinya. Gak cuma sekali tapi sebelas kali dan sempat digitukan (diperkosa, red)," ungkapnya kepada Surabaya Pagi di Mapolres Mojokerto.

Kasubag Humas Polres Mojokerto AKP Lilik Achiril Ekowati saat dikonfirmasi kejadian tersebut membenarkan. Menurutnya, petugas masih meminta keterangan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP Ari Fadly mengungkapkan, pihaknya hingga kini masih melakukan pemeriksaan secara intensif. Menurut Ary, bila terbukti perbuatan tersebut, tersangka akan segera ditahan. "Kita masih meminta keterangan korban dan saksi secara intensif. Dan Riyanto juga masih terus diperiksa guna penyidikan lebih lanjut. Bila terbukti, dia harus rela tidur dalam jeruji besi Mapolres Mojokerto," paparnya. sumber

Ustadz pondok pesantren perkosa santri di gudang

Ustadz pondok pesantren perkosa santri di gudang

Ustadz memperkosa santri
Nurokhim (40), seorang guru mengaji di Pondok Pesantren Al Baroyan, Kampung Sidorejo, Kelurahan Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, tega mencabuli enam santri putrinya. Akibat perbuatannya itu, kini tersangka dijebloskan ke tahanan Mapolres Temanggung.

Dihadapan petugas kepolisian, Nurokhim mengaku, dari enam korban pelecehan seksual tersebut, tiga di antaranya telah disetubuhi. “Hanya tiga santri yang saya setubuhi, yang lainnya tidak,” katanya, kepada wartawan, Rabu (23/10/2013).

Perbuatan hina tersebut, dia lakukan karena tidak kuat menahan nafsu saat melihat para santri putri tersebut. Selain itu, dia sering bertemu dalam satu lingkungan dalam kegiatan mengaji.